Our Online Class My New Discourse

23Sep/110

Kekerasan Simbolik (Symbolic Violence) terhadap Suku Jawa dalam Program TV “Hidup ini Indah” di Trans TV

Abstract

Symbolic violence of ethnic in television program still get low attention from Indonesian media content controller (KPI, LSF) as well as audiences because it is done implicitly and unconsciously. On the other hand, the impact is as dangerous as physical violence in television program such us killing, shooting, hitting. This paper try to evaluate content of a television program, ‘Hidup Ini Indah’, produced by Trans TV that is indicated do symbolic violence to ‘Javanese’. Symbolic violence hazard integration of a multicultural society in Indonesia as it produce discrimination of ‘dominant culture’ over ‘minority culture’. By using the basis of Representation Theory (Stuart Hall: 1979) this paper try describe and explain how language (text, symbol, visual, object, event) has produced certain meaning, called ‘stereotype’ that is identified as symbolic violence.

Key words: symbolic violence, stereotype, representation, dominant culture, minority culture

Penulis: Nurul Hasfi, MA, lecturer of Communication department

3Sep/090

DRAMA REALITY ATAU REALITY SHOW?

Ada surat pembaca di Kompas edisi Jumat, 14 Agustus 2009 judulnya “Tayangan Tak Mendidik di Sebuah Stasiun Televisi” atas nama Oethomosoebarkah yang beralamat di Sleman, Yogyakarta. Isinya mengkritik acara sebuah program televisi bernama “Curhat” yang dibawakan oleh Anjasmara.

Tentu, saya yakin semua orang setuju dengan kritikan itu, karena memang semua program televisi yang yang menurut TV itu bergenre “reality show’ (harusnya drama reality, namun karena AC Nielson tidak memiliki kategori program ini maka Curhat, Termehek-mehek, dkk, masuk kategori reality show) penuh dengan nilai-nilai tidak mendidik.

Namun ada yang membuat saya mengeryitkan dahi, saat dibagian paling akhir tulisannya si penulis surat pembaca ini mempertanyakan: “ kenapa saat ada adegan cakar-cakaran, pihak televisi sama sekali tidak melerainya, misalnya dengan menghadirkan satpam?”

Dalam hati saya bertanya, menghadirkan satpam? Ko serius banget…?! Itu kan cuma acara bohong…

Yaa.. kalau memang kejadian itu benar, ya bukan hanya satpam pak yang didatangkan, tapi semua yang terlibat baku hantam itu akan melapor ke polisi, kemudian video yang ditayangkan di TV itu akan dijadikan bukti laporan, dan yang mencakar, menjambak dan mencaci maki langsung masuk penjara. Yang sering menonton infotainment harusnya ngerti. Istri Pasya hanya kena luka cakar saja, langsung visum dan membuat suaminya dipanggil polisi, atau Keket yang dilaporkan ke polisi karena kata-katanya yang dianggap menyinggung artis lain.

Timbul lagi pertanyaan saya, apakah Kompas juga tidak tahu jika acara semacam yang sekarang menjamur ini hanya rekayasa sehingga menerbitkan sebuah kritik yang menurut saya tidak smart seperti ini? Pasti si Produser juga ketawa lihat kritik si Bapak ini, atau mungkin justru menjadi inspirasi si produser ya .. untuk episode lain mendatangkan satpam yang “pura-pura” melerai dan kena timpuk para pemain dan seterusnya….

Tapi saya tidak perduli terhadap itu, yang menjadi perhatian saya sekarang adalah, begitu pintarnya para produser televisi kita, hingga bisa sukses menipu pemirsannya. Sampai mengkritik saja ko salah (nurul)

   
Skip to toolbar