Our Online Class My New Discourse

2Mar/150

Ruang Publik Virtual: Ruang yang Diperebutkan

Pilpres RI 2014 menjadi saksi bagaimana sosial media dipakai sebagai alat diskusi deliberatif yang dinamis dalam sejarah pilpres di Indonesia. Fenomena ini sekilas memperkuat thesis bahwa ruang publik virtual telah meningkatkan partisipasi politik. Namun mungkin pernyataan itu terlalu tergesa-gesa karena selain diskusi yang membangun proses komunikasi politik, media baru ini justru menumbuh-suburkan praktek-praktek diskusi patologis. Twitter menjadi tempat dihembuskannya opini-opini yang mengarah ke kampanye negatif, kampanye hitam hingga propaganda. Isu-isu sensitif agama dan ras menjadi alat komoditas politik yang membahayakan integrasi bangsa. Twitter yang memberikan otonomi khusus pada setiap warga untuk berkomunikasi secara terbuka, kenyataannya tidak selalu serta merta memberikan jaminan terbangunnya demokrasi yang lebih baik. Tak begitu berbeda dengan ruang publik dalam konteks media tradisional, twitter juga menjadi ruang yang diperebutkan untuk mencapai kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.

Key words: ruang publik, twitter, sosial media, pilpres 2014

Dipresentasikan dalam Conference on Communication, Culture, and Media Studies (CCCMS) 2014

Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment


*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

No trackbacks yet.

Skip to toolbar