Our Online Class My New Discourse

17May/130

Tersesat di Jejaring Sosial

Dimuat di Wacana Lokal Harian Suara Merdeka (17/5/13) dengan Judul Ketersesatan di Jejaring Sosial

Jum’at (3/5) minggu lalu, Semarang dikejutkan dengan kecelakaan tragis di tanjakan Tanah Putih. Kejadian yang merenggut 3 nyawa dan melukai belasan lainnya. Masyarakat kembali dibuat kecewa, karena lagi-lagi penyebabnya masalah klasik yaitu keteledoran sopir yang ugal-ugalan dan kendaraan yang tidak layak jalan.


Latah di Jejaring Sosial
Ditengahkeprihatinan masyarakat akan kejadian ini, ada hal menarik yang patut diamati. Sesaat setelah kejadian, berita tentang kecelakaan ini menyebar begitu cepat. Pesan yang dibuat beragam dari sekedar teks, foto hingga video. Berselang tak lebih dari 15 menit setelah kejadian, situs jejaring sosial twitter dan facebook sudah ramai membicarakan kejadian itu. Tidak kalah dengan situs jejaring sosial, pesan berantai yang dikirim melalui blackberry mesanger juga tersebar cepat. Sepertinya teknologi digital telah nyata merubah perilaku masyarakat Semarang dalam mengkonsumsi dan menyebarkan informasi.
Di satu sisi, distribusi informasi yang cepat melebihi kemampuan media tradisional, diakui membantu masyarakat, terutama pemakai jalan. Namun tak jarang pesan justru berisi informasi yang simpang-siur dan membuat masyarakat panik. Contohnya pesan singkat berantai yang tersebar di blackberry mesanger (bbm) dan sosial media berikut ini: “ Bus Nugroho meluncur kencang menabrak puluhan motor dan 3 mobil Avanza, 2 Jazz & 1 sedan Accord dari arah Wahidin (tanah putih) karena rem blong, baru saja terjadi. Diperkirakan 10 orang tewas termasuk anak sekolah yang tergeletak di jalan penuh darah. Tolong bantu broadcast… Agar pihak kluarga bisa cepat di beri tahu… Thanks”. Jika kita cermati, maka bisa diartikan ada 6 mobil yang tertabrak, puluhan sepeda motor dan 10 orang tewas. Informasi itu salah, karena bus Nugroho menambarak 3 mobil, 7 sepeda motor dan 3 orang korban meninggal. Pesan itu juga terlalu dangkal jika ditujukan untuk membantu keluarga korban. Tidak ada data-data khusus seperti nama, nomor kendaraan korban, dll. Yang terjadi mungkin justru ketidak-pastian dan keresahan. Ironisnya, kebanyakan penerima pesan berantai semacam itu, latah meneruskan informasi itu ke jaringannya tanpa berfikir panjang.
Muncul juga foto-foto vulgar para korban yang justru semakin melukai hati keluarga korban. Ditambah ulah oknum tak bertanggun-jawab yang mengirim foto palsu atau yang dikenal sebagai hoax. Salah satu foto hoax yang tersebar di dunia maya dalam kejadian ini adalah foto anak perempuan yang meninggal dengan kondisi luka parah di bagian kepala. Faktanya tak satupun korban adalah anak-anak. Hoax seringkali muncul dalam peristiwa-peristiwa bencana, misalnya saat jatuhnya pesawat Sukoi di lereng Gunung Salak (9/5/12) dimana sebuah akun twitter atas nama Yogie Samtani menyebarkan foto yang disebutnya sebagai jenazah pilot Shukoi, Alexander Yablontsev. Belakangan setelah ditelusur, ternyata foto yang tersebar adalah jenazah korban pesawat Air India Express.
Apa yang dilakukan masyarakat itu adalah bentuk aktifitas jurnalisme warga (citizen journalism) seperti yang dimaksudkan oleh Dan Gillmor dalam bukunya We the Media. Ia mengatakan perkembangan teknologi digital memungkinkan masyarakat memproduksi informasi entah disadari atau tidak. Gillmor optimis jurnalisme warga menjadi wadah diskusi masyarakat masa depan dan diprediksi mengalahkan popularitas media tradisional yang selama ini mendominasi penyebaran informasi. Di Indonesia dampak positif aktifitas jurnalis warga terlihat nyata dalam peristiwa bencana alam seperti tsunami Aceh. Saat itu, hasil dokumentasi warga telah menarik simpati dunia hingga bantuan dari berbagai belahan dunia membanjiri Aceh. Setelah peristiwa itu, rentetan bencana di Indonesia seperti Bom bali I dan II, Bom JW Marriot, Gempa Jogja, Gempa Sumatera, dll juga menjadi saksi sejarah berkembangnya jurnalisme warga di Indonesia.

Akurasi yang Terabaikan
Namun dalam perkembangannya, aktifitas jurnalisme warga mulai mendapatkan kritikan. Rendahnya akurasi berita, lemahnya konfirmasi dan terabaikannya etika menjadi alasan utama. Kritik cukup pedas muncul dalam sebuah situs mobile.slate.com, saat hiruk-pikuk pelaporan peristiwa pengeboman di Boston (15/4). Penulis artikel yang juga seorang jurnalis bernama Farhad Manjoo meminta agar masyarakat menutup akun twitter mereka dan menyarankan membaca indept news di surat kabar esok hari. Pesan ini dilatar-belakangi peristiwa memalukan yang menimpa beberapa media USA yaitu CNN, The Associated Press (AP), Reddit dan The New York Post. Para editor media itu salah mengidentifikasi pelaku bom karena secara sembarangan mengutip informasi dari akun twitter. Reddit misalnya, mempercayai akun twitter yang mengaku mendengar percakapan polisi di police scanner (semacam HT) yang menyebut-nyebut pelaku pengeboman adalah mahasiswa Brown University. Kesimpang-siuran berita itu muncul di timeline twitter baik milik profesional media maupun akun pribadi. Wargapun terjebak dalam kegembiraan telah ditemukannya pelaku, hingga akhirnya informasi salah itu tersebar luas di jejaring sosial. Belakangan diketahui, pelaku pengeboman adalah kakak beradik berkewarganegaraan Rusia.
Memahami peristiwa diatas, setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Pertama, sebagai warga– jika tidak bisa disebut jurnalis warga – harus belajar mengendalikan diri saat beraktifitas di dunia maya, terutama situs jejaring sosial dan semacamnya. Di saluran ini, pemilik akun sebenarnya telah terhubung dengan ratusan ribu bahkan jutaan pengguna yang siap membaca pesan yang dibuat. Jika informasi yang ditulis terkait dengan nasip orang banyak, keselamatan orang dan kepentingan masyarakat, maka sebenarnya secara otomatis siapapun sudah masuk dalam ranah kerja jurnalistik. Pemilik akun wajib ber-etika dan mau tidak mau harus menjunjung keakuratan informasi. Kedua, masyarakat mungkin mulai paham bahwa media online yang selama ini dianggap sebagai media alternatif terbukti memiliki kelemahan. Kecepatan yang menjadi prioritas utama, menyebabkan media online mengesampingkan prinsip mendasar jurnalisme lain seperi keakuratan, kelengkapan dan keberimbangan. Media USA yang terlebih dahulu mengadopsi teknologi ini, telah melangkah lebih jauh dengan membuat divisi sosial media yang bertugas menjarin informasi langsung dari sumbernya. Namun peristiwa Boston membuktikan bahwa metode itu tidak selalu efektif, bahkan berakhir dengan menurunnya kredibilatas media bersangkutan.

Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment


*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

No trackbacks yet.

Skip to toolbar