Our Online Class My New Discourse

17May/130

Buruh dalam ‘Keterasingan’

Berat menjadi buruh. Ia bekerja dalam batasan-batasan yang membuatnya tidak merasakan hak-haknya sebagai manusia. Bekerja yang sejatinya adalah hakikat hidup yang paling mendasar, justru menjadi tekanan hidup. Ia terasing dengan pekerjaannya, dengan dirinya bahkan dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Sisi lain inilah yang tidak pernah muncul dalam diskusi perjuangan hak-hak buruh. Padahal sejatinya semua permasalahan bermuara sini.

Pergerakan buruh di Indonesia secara terbuka baru dilaksanakan pasca reformasi 1998. Hingga kini permasalahan utama masih klasik yaitu tentang upah. Tarik ulur kepentingan antara buruh dengan pengusaha tidak ada habisnya berlangsung. Pemerintah dinilai gagal menjadi penengah antara dua kelompok yang saling berseberangan ini. Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang ketenaga-kerjaan masih ambigu terutama terkait dengan status dan hak para buruh yang diterima dari perusahaan dimana dia bekerja. Misalnya saja dalam kasus pemutusan hubungan kerja secara sepihak yang dilakukan perusahaan, buruh yang tak mendapatkan hak-haknya misalnya pesangon pada kenyataannya tidak akan mampu melakukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial karena prosedur yang berbelit dan biaya yang tak terjangkau buruh.

Selain itu, permasalahan tenaga kerja outsourching yang secara implisit tercantum dalam undang-udang ketenagakerjaan sangatlah merugikan buruh. Sistem kerja outsourcing disebut-sebut melanggar Hak Asasi Manusia. Dalam sistem kerja seperti ini maka pengusaha bisa terbebas dari segala tuntutan terkait hak-hak pekerja seperti jaminan sosial tenaga kerja, pesangon, dll. Pengusaha curang juga memanfaatkan sistem kerja ini untuk bisa mengendalikan biaya-biaya operasional perusahaan seperti uang makan dan jaminan kesehatan karena semua ditanggung penyedia tenaga kerja outsourcing.

Keterasingan (alienation)

Buruh dalam pandangan Karl Mark (1818-1883) adalah kelas proletar yang sedang berhadapan dengan pemilik kapital atau pemilik modal. Dalam teori perjuangan kelas (class strugle theory) kedua kelas ini memang selalu berseberangan dan muncul dalam sistem industri kapital. Buruh mengalami apa yang disebut dengan keterasingan dalam bekerja. Bekerja sebagai tindakan manusia yang paling mendasar, yang seharusnya membuat manusia hidup nyata dalam dirinya sendiri, ternyata tidak bisa dinikmati. Buruh terpaksa menerima pekerjaan di jam kerja yang ketat, gaji rendah dan tekanan dari atasannya. Keterasingan dalam pekerjaan pada akhirnya menunculkan keterasingan pada diri, terasing dengan pekerjaannya, dan terasing dengan orang lain.

Pertama, terasing pada dirinya sendiri terjadi misalnya buruh pembuat sepeda motor, sang buruh ini tidak pernah memiliki kesempatan untuk mencoba sepeda motor yang ia buat apalagi memilikinya. Produk adalah milik pemilik pabrik. Apalagi saat ia hanya mengerjakan bagian kecil dari produk, misalnya buruh bertugas memasang baut-baut yang ada di mesin sepeda motor, maka ia mungkin sama sakali tidak tahu seperti apa hasil akhir dari pekerjaannya.

Kedua, buruh terasing dari pekerjaannya dirasakan saat bekerja buruh tidak bisa menjadi entitas yang bebas karena terkekang jam kerja dan aturan. Buruh berada di luar dirinya dan memperalat serta mengeksploitasi diri hanya untuk sekedar bertahan hidup. Pekerjaan yang seharusnya menjadi ajang pengembangan diri, hanya menjadi alat yang memiskinkan diri. Buruh semakin miskin karena tidak memiliki kesempatan untuk berkreasi. Pekerjaan difokuskan pada tugas monoton yang hanya mengutamakan kuantitas, bukan kualitas.

Ketiga, ketika terasing dari pekerjaannya, maka secara otomatis ia juga terasing dari orang lain dan kehidupan sosialnya. Buruh memiliki jarak dengan atasanya, bahkan dengan pekerja-pekerja lain yang memiliki jabatan berbeda. Buruh dipisahkan kelas yang berbeda-beda. Hubungan mereka bukan lagi hubungan antar manusia, yang saling membutuhkan namun hubungan atara bawahan dengan atasan yang saling menyerang. Dalam sistem kerja outsourching misalnya, buruh akan memiliki keterasingan ganda saat ia terasing dengan pemilik perusahaan outsourching dan perusahaan tempat ia bekerja. Mereka bekerja di tempat asing dan mungkin berpindah-pindah. Tenaga oursourcing tidak memiliki nilai tawar di tempat ia bekerja. Ia mungkin merasa bukan bagian dari perusahaan tempat ia bekerja. Ia merasa berada di kelas yang berbeda.

Benang kusut yang harus diurai

Keterasingan adalah hal yang selama ini luput menjadi perhatian kita. Permasalahan buruh hanya diidentikkan dengan tuntutan kenaikan gaji dan pemenuhan materi lainnya seperti pesangon, jaminan kesehatan, dll. Padahal sejatinya semua itu bermuara dari perasaan terasing yang dialami buruh, yang apabila dibiarkan secara sosial akan berakibat buruk. Karl Mark mengatakan bahwa selama kapitalisme masih ada, maka pertikaian antara kelas buruh dan kelas kapital akan terus berlangsung. Menurutnya, jalan satu-satunya adalah dengan melakukan revolusi hingga membentuk masyarakat tanpa kelas. Namun tentunya bukan solusi ini yang dibutuhkan Indonesia sebagai negara demokrasi. Inilah tantangan berat pemerintah Indonesia di era pasar bebas dan industri global untuk menemukan solusi terbaik untuk kedua belah pihak.

Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment


*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

No trackbacks yet.

Skip to toolbar