Our Online Class My New Discourse

7Nov/090

Hati-hati Menulis di FB

SEMARANG (FON)- Situs-situs jejaring sosial seperti facebook merupakan media komunikasi on line di dunia maya yang bersifat bebas dan terbuka sehingga sah-sah saja bila seseorang mengemukakan pendapat di dunia maya. Namun pengguna media on line hendaknya berhati-hati bila mengemukakan pendapatnya karena apa pun pendapatnya bisa dilihat dan ditanggapi orang lain secara berbeda.

“Pendapat yang melawan arus bisa saja menimbulkan tanggapan yang pro dan kontra. Seperti saat ini, arus yang ada di masyarakat sedang mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehingga pernyataan yang melawan arus mendapat tanggapan yang kontra,” kata Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Yanuar Lukman MSi kepada FISIP Online News di Semarang, Jumat (6/11) menanggapi kasus “Evan Brimob” yang saat ini merebak di dunia maya.

Kasus tersebut bermula dari facebook ketika seseorang dengan akun “Evan Brimob” menulis di statusnya, “POLRI tidak butuh masyarakat, masyarakat yang butuh POLRI. Mari kita telan cicak2 kecil”. Pernyataan tersebut mendapat komentar yang beragam, namun mayoritas kontra. Komentar-komentar semakin panas ketika “Evan Brimob” menanggapi secara arogan dan membawa-bawa institusi kepolisian.

Dalam akun Facebook tersebut, “Evan Brimob” menampilkan foto-fotonya menggunakan seragam Satuan Brimob dan membawa senapan. Bahkan dalam profilnya, dia menyebutkan sebagai anggota Satuan Brimob Polda salah satu provinsi di Sumatera.

Di sisi lain, Yanuar menegaskan, bahwa di dunia maya semua hal bisa terjadi termasuk manipulasi status dan identitas. Bukan tidak mungkin, bila akun “Evan Brimob” dan segala pro-kontra yang muncul itu tersebut direkayasa sekelompok provokator untuk memperkeruh konflik “KPK-POLRI/Kejaksaan” yang sedang menjadi isu nasional.

“Apakah kita yakin bahwa seseorang bernama Evan itu benar-benar ada? Apakah benar dia seorang anggota POLRI? Di dunia maya semua bisa dimanipulasi,” kata Yanuar.

Meskipun begitu, Yanuar memprediksi bahwa akun tersebut benar-benar milik seseorang bernama Evan anggota POLRI. Dia, lanjut Yanuar, menuliskan status tanpa memikirkan efek yang mungkin muncul dari pernyataan tersebut. Sangat mungkin dia menuliskan status tersebut sebagai ungkapan kekesalan karena institusinya dipojokkan dengan adanya konflik “KPK-POLRI/Kejaksaan”.

Yanuar juga berharap, kasus ini tetap berada di dunia maya dan tidak perlu di-blow up di media konvensional karena dapat memperkeruh suasana. Terkait hal tersebut, Yanuar menyarankan POLRI untuk mengambil sikap namun tetap menggunakan media online di dunia maya.

“Berikan pernyataan melalui media yang sama. Tidak perlu dibawa ke ranah yang lebih luas sehingga masyarakat tidak semakin tahu, Nampaknya media online juga tidak berminat untuk memberitakan kasus ini karena memikirkan efek yang mungkin timbul,” kata Yanuar.

Reporter: Dewanto Samodro

Http://www.fisip.undip.ac.id

Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment


*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

No trackbacks yet.

Skip to toolbar