Our Online Class My New Discourse

14Sep/090

SAAT MAINSTREAM MEDIA MERANGKUL WARGA DALAM PELIPUTANNYA

Citizen Journalism mulai diakui keberadaannya di Amerika saat sebuah surat kabar lokal bernama The Time Picayune memenangkan penghargaan Pulitzer Prices dalam liputan Badai Katarina di The New Orleand. Pada penghargaan kali ini terdapat catatan khusus dimana penghargaan ini diraih berkat kerjasama The Time Picayune dengan citizen journalist, selanjutnya disebut CJ.

Sementara di BBC, CJ menunjukkan perannya saat terjadi pengeboman di kereta bawah tanah di London. Dalam waktu 6 jam BBC menerima 1000 foto, 20 video amateur, 4000 sms dan 20.000 email yang berisi informasi terkini kejadian pengeboman. Keesokan harinya semua gambar yang ditayangkan oleh BBC adalah video amateur kiriman para citizen journalist itu. Dan mulai saat itu juga BBC sadar bahwa CJ sangat membantu dalam peliputan berita di newsroomnya.

BBC juga memiliki program pendidikan untuk para warga yang ingin menjadi jurnalis, dan membangun studio mini untuk warga yang ingin menjadi jurnalis televisi hingga membuat blog dan website sebagai alat untuk berdiskusi dengan mereka.

Lalu bagaimana dengan yang terjadi di Indonesia? Sama yang terjadi di kedua belahan dunia itu. Citizen Journalist menampakkan perannya yang penting dalam peristiwa-peristiwa besar seperti tsunamy Aceh, Bom Bali I dan II, serta terbaru pengeboman 2 hotel besar di Mega Kuningan beberapa waktu lalu.

Masih ingat, semua video detik-detik terjadinya bencana yang ditayangkan di semua televisi nasional kita adalah kamera amateur dari warga. Disini nilai yang dibawa oleh video amateur yang tidak dimiliki oleh hasil pengambilan gambar jurnalis profesional adalah aktualitas. Seorang wartawan SCTV mengakui kekalahan jurnalis tradisional sehubungan dengan dokumen yang diambil para amateur ini – jika belum bisa disebut citizen journalist. Baca selengkapnya disini.

Sepertinya kelebihan yang dimiliki CJ yaitu kemampuan membawa nilai berita bernama “aktualitas” telah menyebabkan banyak mainstream media di Indonesia tidak lagi memandang CJ sebelah mata. Maintream media di Indonesia yang pertama merangkul CJ adalah Radio yaitu Radio Elshinta, saat media lain seperti televisi dan surat kabar masih enggan melibatkan warga dalam liputannya.

Dalam penelitian yang dibuat wartawan The Jakarta Post, Moch. Kurniawan, tahun 2007 radio elshinta sudah memiliki 100.000 reporter warga yang siap memberikan informasi kepada masyarakat.

Sementara surat kabar dan televisi di Indonesia saat ini mulai memperlihatkan ketertarikannya mengajak CJ dalam proses produksi berita. Misalnya saja RCTI yang mengajak warga mengirim informasi seputar mudik baik berupa foto, teks maupun video dengan menggunakan fasilitas jejaring sosial, Facebook.

Interaksi dengan warga juga diintensifkan oleh liputan 6 SCTV yang membuat blog untuk para jurnalis mereka, dimana didalamnya memiliki format interaktif, seperti halnya kompasiana.com. Pembuatan blog intektif dengan warga ini juga sama seperti konsep pendekatan antara media dengan CJ yang diterapkan oleh The Times Picayune saat mereka melakukan pelaporan badai Katarina.

Sementara media cetak di Indonesia lebih suka menyebut istilah CJ di versi onlinenya seperti yang ada di Suara Merdeka dan Kompas, meski saat ini sudah dihapus dan menggantikannya dengan blog wartawan Kompas di alamat kompasiana.com. The Jakarta Post menerapkan konsep yang sama dengan Radio Elshinta yang mengajak pembacanya mengirim informasi ke redaksi. Dalam pengamatan penulis The Jakarta Post membuat status di Facebook berisi ajakan kepada siapa saja yang bersedia menjadi informan seputar arus mudik dan arus balik 2009.

Sepertinya maintream media di Indonesia mulai merangkul warga dalam proses peliputannya, dan penulis yakin konsep ini akan terus berkembang di Indonesia. (Nurul HW)

(Artikel Selanjutnya: “Citizen Journalism: perlawanan atas hegomoni media tradisional”)

Comments (0) Trackbacks (0)

No comments yet.


Leave a comment


*

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.

No trackbacks yet.

Skip to toolbar